Guru Faktor Penentu Utama Dalam Proses Pendidikan

Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Menyelenggarakan Upacara dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional…

tahun 2009 dan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (HUT PGRI) ke-64, yang diselenggarakan di lapangan upacara depan Gedung A, Depdiknas, pada Rabu, (25/11).

Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2009 dan HUT PGRI ke-64 ini bertemakan “Memacu Peran Strategis Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat dan Guru dalam Mewujudkan Guru Profesional, Sejahtera, Bermartabat, dan terlindungi”.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh, selaku pembina upacara Hari Guru Nasional tahun 2009 ini mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas prestasi, dedikasi, komitmen, keikhlasan, dan pengabdian para guru kepada bangsa dan negara. Mendiknas juga berharap mudah-mudahan para guru selalu mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.

Dalam sambutannya, Mendiknas juga mengatakan bahwa dalam memperingati hari-hari besar nasional seperti Hari Guru Nasional ini, sedikitnya mempunyai tiga makna. Pertama, reflektif kesejarahan, yakni merenungkan kembali nilai-nilai kemulyaan yang terkandung dalam Hari Guru yang bisa dijadikan momentum untuk merefleksikan diri terhadap langkah panjang yang telah dilalui terkait dengan cita-cita awal dalam mendorong lahirnya Hari Guru Nasional.

Kedua, introspeksi kekinian adalah upaya untuk introspeksi terhadap perjalanan yang telah dilakukan dalam konteks kekinian. , Ketiga,lanjut Mendiknas, antisipatif futuris, yaitu menatap masa depan yang lebih baik dengan memberikan modal ilmu, modal kepribadian dan modal budaya yang unggul kepada anak-anak sebagai penerus bangsa.

Guru merupakan faktor penentu utama proses pendidikan dan pembelajaran, karena tidak ada guru maka tidak ada pula pendidikan. Sehingga dengan sentuhan guru profesional yang bermartabat, terlindungi, dan sejahtera, maka anak-anak bangsa akan menerima proses pembelajaran yang mendidik dan bermutu.

“Prestasi, keteladanan dan kepeloporan para guru yang telah ditunjukkannya semasa revolusi hingga sekarang merupakan semangat dan tradisi perjuangan yang perlu terus menerus diselaraskan, seiring dengan cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya. Untuk mengantisipasi hal itu, tidak berlebihan kiranya harapan masa depan bangsa Indonesia dipertaruhkan kepada mereka yang berprofesi sebagai guru”, kata Mendiknas.(AND) -Sidiknas-

Sumber = www.diknas.go.id

Hari ini 18 Desember & Anakku yg kedua

Anakku, hari ini 18 Desember engkau tepat berusia 2 tahun. Semoga Allah senantiasa memberikan berkah dan rahmatnya kepadamu.

TIK sebagai Bagian Budaya Para Pendidik

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah memasukkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ke dalam salah satu program prioritasnya. TIK dianggap memiliki peran besar dalam upaya memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan. TIK memungkinkan terjadinya proses belajar efektif, menyediakan akses pendidikan untuk semua, memfasilitasi terjadinya proses belajar kapan saja dan di mana saja.

Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika mengatakan, pemanfaatan TIK hendaknya tidak hanya berkutat pada penyediaan perangkat keras saja. Menurut dia, TIK hendaknya diletakkan sebagai aspek kultur dan budaya para pendidik. “Tantangan terbesar kita bukan pada perangkat keras dan jaringan, tetapi bagaimana budaya TIK menjadi bagian dari para guru kita dalam memberikan proses-proses pembelajaran di kelas – kelas,” katanya saat mewakili Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) pada pembukaan International Symposium On Open, Distance, and E-Learning (ISODEL) 2009 di Hotel Sheraton, Yogyakarta, Rabu (9/12/2009).

Membacakan sambutan tertulis Mendiknas, Dodi menyampaikan, pemanfaatan TIK untuk pendidikan terjadi melalui empat tahapan yaitu konektivitas, transaksi, kolaborasi, dan transformasi. Pemerintah, kata dia, telah dan akan terus memfasilitasi terjadinya konektivitas, salah satunya melalui Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas). Dia menyebutkan, saat ini Jardiknas telah menghubungkan 25.382 titik yang terdiri atas lebih dari 18.080 sekolah jenjang SD, SMP, SMA/SMK, dan 363 perguruan tinggi, 939 kantor dinas pendidikan di tanah air, serta 6.000 guru. “Ke depan jumlah ini masih akan bertambah,” katanya.

Sementara, lanjut Dodi, pada tahap transaksi, pemanfaatan TIK akan memberikan akses dan kemudahan terjadinya pertukaran dan kesempatan berbagi pengetahuan antar berbagai pihak dalam komunitas pendidikan. Kolaborasi merupakan tahapan berikutnya dalam pemanfaatan TIK untuk pendidikan. “Pemanfaatan TIK dalam pendidikan tidak pernah luput dari jaringan kerja sama yang kuat dalam bentuk jejaring atau konsorsium pendidikan yang melibatkan berbagai pihak dan sektor,” katanya.

Adapun pada tahap transformasi, Dodi menjelaskan, TIK merupakan pengungkit dari proses transformasi pendidikan menuju pendidikan modern. “TIK membawa beragam perubahan dalam tradisi dan budaya pendidikan yang harus dicermati dengan bijak oleh berbagai pihak yang terlibat,” katanya.

Dodi mengatakan, dengan TIK, perguruan tinggi diharapkan dapat bertransformasi menjadi perguruan tinggi kelas dunia, dan sekolah-sekolah menjadi sekolah berstandar internasional yang memiliki daya saing dalam percaturan pendidikan tingkat global. “Keberhasilan proses transformasi budaya pendidikan di tanah air akan tercapai jika TIK tidak ditempatkan sebagai teknologi  yang kosong. Untuk itu, diperlukan konten yang mengisi teknologi tersebut, serta sumber daya manusia terutama guru yang terampil memanfaatkan teknologi secara tepat, sehingga peningkatan kualitas pembelajaran dapat dicapai,” katanya.

Dodi menambahkan, sejak tahun 2008 Depdiknas telah berkolaborasi dengan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) dalam menyediakan konektivitas untuk sekolah melalui Program Desa Berdering. Sinergi antara program desa berdering dan Jardiknas saling melengkapi. “Program Desa Berdering  memperkuat dengan telepon, kami memperkuat sekolah dengan jaringan internetnya, sehingga guru – guru, siswa – siswa, dapat belajar dari internet dibackup oleh Jardiknas. Mudah – mudahan makin sempit desa – desa yang tidak dapat diakses oleh jaringan telekomunikasi. Ini sangat penting, bukan hanya di pendidikan, tetapi berbagai aspek kehidupan seperti hubungan individu, perdagangan transaksi, dan sosial,” katanya.

Menjawab pertanyaan wartawan usai acara, Dodi mengatakan, pelaksanaan program TIK yang tertuang pada rencana strategis (Renstra) Depdiknas 2004 – 2009 ini didanai murni dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Di sisi lain, pemerintah terbuka dalam menjalin kerja sama dengan pihak manapun. “Kami tidak sama sekali mengandalkan bantuan luar negeri. Adapun dalam kerja sama kami welcome,” ujarnya.

Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Depdiknas Lilik Gani menyampaikan, terkait Program 100 Hari Depdiknas untuk menyediakan konektivitas TIK bagi 17.500 sekolah, per 8 Desember 2009 telah terhubung 17.324 titik. Dia merinci, sebanyak 8.307 jenjang SD, 5.284 SMP, 1.586 MI, dan 2.147 MTs. “Jadi sudah 98,99 persen,” katanya.

Lebih lanjut Lilik menyebutkan, jika digabung dengan sebanyak 7.222 titik di jenjang SMA/MA/SMK total yang terkoneksi sebanyak 24.546 titik. “Program 100 Hari hanya untuk SD dan SMP sederajat,” ujarnya

Sumber : www.depdiknas.go.id

KOMPETENSI YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG GURU

Dunia pendidikan di Indonesia tidak lagi berpandangan bahwa guru hanya sekedar menyampaikan bahan pelajaran kepada murid-muridnya. Tugas guru jauh lebih luas daripada itu. Guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut secara langsung bertanggung jawab membantu perkembangan anak didiknya untuk mencapai kedewasaan. Bantuan yang diberikan guru tidak hanya mengenai aspek intelektual, tetapi juga aspek sikap, minat, perkembangan emosi, perkembangan sosial dan lain-lain.

Untuk memainkan peranannya tersebut, sudah tentu guru harus membekali dirinya dengan kompetensi-kompetensi yang mendasari segala kegiatannya sebagai profesi guru. Kompetensi-kompetensi tersebut adalah kompetensi pribadi, kompetensi kemasyarakatan dan kompetensi profesi. Ketiga kompetensi itu merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Dengan memiliki ketiga perpaduan kompetensi tersebutlah yang membedakan seorang guru dengan orang yang bukan guru.

Kompetensi pribadi meliputi kemampuan seorang guru untuk dapat bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat yang dapat diteladani oleh anak didiknya dan anggota masyarakat pada umumnya.

Demikian juga halnya dengan kompetensi kemasyarakatan. Guru harus dapat menempatkan dirinya sebagai anggota masyarakat yang dapat mengembangkan hubungan yang baik dan harmonis serta mampu mewujudkan dan membina kerja sama dengan semua pihak yang ikut bertanggungjawab terhadap proses pendidikan anak-anak.

Kompetensi yang ketiga yaitu kompetensi profesi yang berkenaan dengan kemampuan dasar teknis edukatif dan administratif, yang harus dipahami oleh seorang guru. Kompetensi profesi guru antara lain :

  1. Menguasai bahan pelajaran secara luas.
  2. Mampu mengelola program belajar-mengajar di kelas.
  3. Mampu mengelola kelas.
  4. Mampu menggunakan media / sumber belajar secara tepat.
  5. Mampu mengelola dan mempergunakan interaksi belajar mengajar untuk perkembangan fisik dan psikis anak secara sehat.
  6. Mampu melakukan penilaian prestasi belajar siswa secara objektif.
  7. Memahami fungsi dan program layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah.
  8. Menguasai dasar-dasar ilmu kependidikan.

Dengan memperhatikan peranan yag harus dimainkan oleh guru beserta kompetensi dasar yang harus dimilikinya, maka guru adalah petugas profesional yang bertanggungjawab untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional secara efektif dan menyeluruh.

Bagi guru yang betul-betul menyadari kedudukannya dan fungsinya sebagai pendidik profesional, sudah tentu selalu terdorong untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

GURU ITU PEMIMPIN SEJATI

Orang yang berpredikat sebagai guru yang tugas sehari-harinya sebagai membimbing, mendidik dan mengajar sebenarnya merupakan seorang pemimpin sejati. Karena kalau ditelusuri menurut konsep kepemimpinan, maka guru memiliki semua kriteria sebagai pemimpin.

Guru sebagai pemimpin dalam tugasnya tidak sama dengan pemimpin yang dijumpai dalam organisasi massa. Kepemimpinan guru belum tentu memiliki kemampuan psikososial (bakat kepemimpinan), berbeda dengan mereka yang berada dalam organisasi massa umumnya pemimpin yang bernaung pada wadah tersebut telah memiliki dasar kemampuan psikososial. Sehingga pemimpin-pemimpin dalam organisasi massa lebih terkenal dan dapat bertahan untuk masa yang lama.

Sesungguhnya kepemimpinan guru mempunyai kelebihan daripada pemimpin lainnya karena guru dapat berdiri di belakang, di tengah dan di depan. Ketiga hal tersebut selalu dilaksanakan bila ia sedang berdiri di hadapan para peserta didiknya. Di samping itu guru senantiasa memberikan teladan yang kongkret, contoh yang baik, mendorong, memotivasi dan mengikuti massa (peserta didik) agar dapat bertindak dan berprilaku baik.

Guru itu pemimpin yang mempunyai tugas ganda. Tidak hanya mengajar dan mendidik melainkan juga harus dapat memberi rangsangan, pengaruh dan mengubah sikap. Guru sebagai pemimpin mempunyai tugas mengembangkan kepribadian massa (peserta didik) agar memiliki mental yang tangguh. Adapun cara yang dipergunakan hanya atas dasar kasih sayang belaka. Kadang-kadang juga diselingi dengan bentakan.

Pemimpin sejati yaitu pemimpin yang dapat memberi sinar terang (pelita) kepada massa, pengikutnya yang berada dalam kegelapan. Kenyataan yang demikian ini dapat ditemukan pada profil guru. Ia selalu mengusahakan, mencarikan dan memberikan informasi yang sekiranya dibutuhkan oleh massa (peserta didik). Lagi pula guru akan menyampaikan denan sejelas-jelasnya. Bila di antara massa ada yang belum dapat memahami ia sanggup mengulang kembali penjelasannya. Dirinya menjadikan banyak orang terangkat ke atas dunia terang, tahu tentang sesuatu dari kegelapan dan kesamar-samaran.

Guru mengemban tugas penuh dengan tanggung jawab. Semua usahanya diarahkan untuk terwujudnya pembangunan dan kesatuan nasional. Ia tidak segan-segan menegur dan memperbaiki sikap anak didik yang kelihatan “melenceng”. Ladang yang ditekuni memerlukan dedikasi yang tinggi dan bukannya tempat untuk menambang emas atau memperkaya diri sendiri.

Guru yang Bagaimanakah Anda?

Paling tidak ada dua pandangan mengenai profesional guru, yaitu Guru sebgai seoarang seniman dan Guru sebagai seorang teknikus

Dua pandangan ini menimbulkan perbedaan besar dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) dan hasil yang didatangkannya.

Guru sebagai seorang seniman
Guru tipe ini tak ubahnya sebagai seoang seniman, kendatipun ia bukan seorang seniman. Ia melaksanakan kegiatan belajar mengajar ibarat seorang seniman, ibarat seorang pemain musik, pelukis, penari, penyair dan sebagainya.
Ia melakukan kegiatan di depan kelas (di depan orang banyak). Ia berusaha agar kegaiatan-kegiatan yang dilakukannya di depan kelas dapat dilakukan sebaik-baiknya menurut subjektivitasnya.
Kebijaksanaan atau keputusan yang diambil, didasarkan kepada pengertian dan pemahamannya terhadap tuntutan situasional kelas yang diajarnya. Oleh sebab keadaan demikian hasil kegiatannya tidak dapat diamati secara sistematis dan tidak dapat dinilai secara objektif.
Demikian juga mutu pengajarannya. Akibatnya sukar untuk melakukan perbaikan kegiatan belajar mengajar atau untuk melakukan perbaikan hasil mengajarnya.

Guru sebagai seorang seniman sebenarnya secara tidak kita sadari, kita lakukan sejak lama. Lebih-lebih kecenderungan kita mengajar meniru bagaimana kita diajar dahulu. Kita menganggap bahwa kita maha tahu dan serba benar. Siswa harus menerima apa yang kita katakan dan harus melakukan pa yang kita suruhkan.
Kita terjebak menjadi Guru Ivory Tower (Guru Menara Gading)

Guru sebagai seorang teknikus
Guru tipe ini berpandangan bahwa kegiatan pengajaran yang dilakukannya di kelas tidak lain merupakan interaksi yang terjdi antara guru (pengajar) dengan para siswa (pelajar). karena kegiatan mengajar meruapak interaksi antara guru dengan para siswa maka kegiatan itu dapat diamati secara sistematis.
Kegaitan mengajar yang dirasakan kurang tepat dapat dicatat, dihimpun sebagai data empiris untuk dapat diperbaiki. Metode mana yang ternyata kurang berhasil dapat dihindari, dan metode yang terbukti banyak mendatangkan hasil diteruskan pemakaiannya. Dengan demikian perbaikan mengajar dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan.

Guru sebagai seorang teknikus akan melakukan upaya untuk menemukan dan memperbaiki kelemahan yang ada padanya. Ia akan memandang siswanya sebagai manusia yang berkembang dan besar kemungkinan perkembangannya kelak melebihi dia sendiri. Hasil tes para siswanya belih dipandangnya sebagai cermin kemampuan, hasil kerja, dan tanggung jawabnya.

sehubungan dengan hal tersebut di atas, pernyataan manakah yang akan Anda pilih:

1. Saya telah mengajar sebaik-baiknya, karena para siswa telah memperhatikan dengan tekun dan patuh pada waktu saya menerangkan.

2. Saya telah mengajar sebaik-baiknya, karena sebagian besar siswa saya mendapat nilai bagus pada waktu diadakan tes/ujian.

PEMANFAATAN FREE WEBLOG SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN IPA BERBASIS WEB

Dunia pendidikan IPA sebagai bagian dari entitas yang hadir di abad teknologi informasi (TI) seperti sekarang, seharusnya mampu memanfaatkan web untuk kepentingan pembelajaran IPA. Kenyataannya, belum banyak Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang Pendidikan IPA yang telah mengoptimalkan pemanfaatan web dalam pembelajaran IPA.

Kurangnya pemanfaatan internet sebagai salah satu media pembelajaran IPA dapat disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, SDM di bidang pendidikan IPA rata-rata mengaggap bahwa menampilkan materi ke-IPA-an di internet adalah pekerjaan yang rumit. Sebagian menganggap bahwa untuk membuat sebuah web pribadi (personal web) di internet, seseorang harus menguasai bahasa pemrograman komputer untuk mendesain tampilan maupun isi suatu web. Kedua, SDM di bidang pendidikan IPA rata-rata menganggap bahwa untuk hosting sebuah situs web di suatu server dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kedua persoalan ini telah menyebabkan tidak banyak SDM di bidang pendidikan IPA bersedia membuat suatu situs web pribadi yang dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.

Keuntungan media pembelajaran berbasis web adalah dalam hal fleksibilitasnya. Sebagian media pembelajarn berbasis web hanya dibangun untuk menampilkan kumpulan materi, sementara forum diskusi atau tanya jawab dilakukan melalui e-mail atau milist. Disamping itu ada juga media pembelajaran berbasis web yang terpadu, berupa portal e-learning yang berisi berbagai obyek pembelajaran yang diperkaya dengan multimedia serta dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai educatioanal tools lainnya. Free weblog merupakan web yang dapat dikembangkan secara instan terdiri dari post dan page. Free weblog dengan demikian dapat dikembangkan sebagai media pembelajaran berbasis web.

Pemanfaatan free weblog sebagai media pembelajaran IPA berbasis web dapat dilakukan dengan cara: 1) Membuat post sebagai media diskusi, 2) Membuat halaman sebagai tempat menampilkan suatu mata pelajaran/mata kuliah, 3) Membuat sub halaman sebagai tempat menampilkan suatu pokok bahasan dalam suatu mata pelajaran.

Adapun keunggulan media pembelajaran IPA berbasis web yang dibangun dengan free weblog adalah: 1) Sebagai media pembelajaran berbasis web, free weblog dapat diakses oleh para siswa kapan saja dan di mana saja, 2) Free weblog merupakan web yang dapat dibangun dengan mudah tidak memerlukan bahasa pemrograman khusus. 3) Free weblog merupakan web yang dapat dibangun tanpa biaya sepeserpun.

Jenis-jenis Software Pengolah Kata

Jenis-jenis program pengolah kata sangat banyak, beberapa diantaranya yaitu :
* AbiWord
* KWord
* Microsoft Works Word Processor
* StarOffice Writer
* WordPerfect
* WordPad
* Chiwriter
* WordStar

AbiWord
AbiWord adalah perangkat lunak bebas pengolah kata (‘word-prosesor’) yang mirip dengan Microsoft Word. Ia sangat cocok digunakan untuk melakukan tugas-tugas pemrosesan kata. Program yang diklaim ringan ini pertama kali dikembangkan oleh Abisource.inc sebelum kemudian diintegrasikan kedalam GNOME Office. Ia mampu membaca format dokumen .doc, .sxw, dan beragam format dokumen umum lainnya.

KWord
KWord adalah aplikasi pengolah kata, bagian dari proyek KOffice dari lingkungan desktop KDE.
Meski ada kemiripan nama, KWord bukanlah semata-mata jiplakan dari Microsoft Word. Walaupun diharapkan fitur-fitur utama Word akan didukung oleh KWord, dalam beberapa hal penting terdapat perbedaan antara keduanya. Skema tata letak teks pada KWord mengikuti konsep frame, seperti halnya Adobe PageMaker. Frame dapat diletakkan di mana saja dalam sebuah halaman, dan mencakup teks, grafik, dan objek. Setiap halaman baru pada dasarnya adalah sebuah frame, teks dapat mengalir dalam frame ini karena kemampuan KWord untuk mengaitkan satu frame dengan yang lain. Pemanfaatan frame memungkinan kemudahan penataan teks dan grafik yang rumit sekalipun.

OpenOffice
OpenOffice.org Writer adalah salah satu komponen dalam OpenOffice.org yang berfungsi untuk mengedit dokumen adapun dokumen format yang bisa digunakan adalah .doc .odt .rtf dan bisa export ke .pdf
Memiliki fitur pengolah kata modern seperti AutoCorrect, AutoComplete, AutoFormat, Styles and Formatting, Text Frames dan Linking, Tables of Contents, Indexing, Bibliographical References, Illustrations, Tables.
Program ini sangat mudah digunakan untuk membuat memo cepat, sangat stabil dan mampu untuk membuat dokumen dengan banyak halaman serta banyak gambar dan judul heading.

Microsoft Word
Microsoft Word atau Microsoft Office Word adalah perangkat lunak pengolah kata (word processor) andalan Microsoft. Pertama diterbitkan pada 1983 dengan nama Multi-Tool Word untuk Xenix, versi-versi lain kemudian dikembangkan untuk berbagai sistem operasi, misalnya DOS (1983), Apple Macintosh (1984), SCO UNIX, OS/2, dan Microsoft Windows (1989). Setelah menjadi bagian dari Microsoft Office System 2007

WordStar
WordStar adalah sebuah aplikasi pengolah kata, dipublikasikan oleh MicroPro International, pertama kali dibuat untuk sistem operasi CP/M dan kemudian di tulis ulang untuk platform DOS, sempat mendominasi pasar pada era 1980an. Meskipun Seymour I. Rubinstein adalah pemilik perusahaan, Rob Barnaby merupakan pencipta versi-versi awal dari program; dimulai sejak WordStar 4.0, program dibuat berdasarkan kode yang ditulis oleh Peter Mierau.

Hasil Seleksi Tahap I SMPN 40

Penerimaan Peserta Didik Baru tahap I telah usai, SMPN 40 menerima 297 siswa baru dengan perincian 282 siswa dari Jakarta dan 15 siswa dari luar Jakarta.  Berikut ini rekapitulasi hasil seleksi tahap I

DKI Jakarta, Nilai Tertinggi = 28.25 Nilai Terendah = 22.50

Luar DKI, Nilai Tertinggi = 27.90 Nilai Terendah = 25.05

Hasil lengkap seleksi tahap I dapat di lihat di website :

http://www.geocities.com/labkom_40

Sejarah Microsoft Word

1981-1990

Banyak ide dan konsep Word diambil dari Bravo, pengolah kata berbasis grafik pertama yang dikembangkan di Xerox Palo Alto Research Center (PARC). Pencipta Bravo, Charles Simonyi, meninggalkan Xerox PARC dan pindah ke Microsoft pada 1981. Simonyi juga menggaet Richard Brodie dari PARC. Pada 1 Februari 1983, pengembangan Multi-Tool Word dimulai.

Setelah diberi nama baru Microsoft Word, Microsoft menerbitkan program ini pada 25 Oktober 1983 untuk IBM PC. Saat itu dunia pengolah kata dikuasai oleh WordPerfect dan juga WordStar.

Word memiliki konsep “What You See Is What You Get”, atau WYSIWYG, dan merupakan program pertama yang dapat menampilkan cetak tebal dan cetak miring pada IBM PC. Word juga banyak menggunakan tetikus yang saat itu tidak lazim sehingga mereka menawarkan paket Word-with-Mouse. Word processor berbasis DOS lain, seperti WordStar dan WordPerfect, menampilkan hanya teks dengan kode markup dan warna untuk menandai pemformatan cetak tebal, miring, dan sebagainya.

Word untuk Macintosh, meski memiliki banyak perbedaan tampilan dari versi DOS-nya, diprogram oleh Ken Shapiro dengan sedikit perbedaan dari kode sumber versi DOS, yang ditulis untuk layar tampilan resolusi tinggi dan printer laser, meskipun belum ada produk seperti itu yang beredar untuk publik. Setelah LisaWrite dan MacWrite, Microsoft pun mencoba untuk menambahkan fitur WYSIWYG ke dalam paket program Word for Macintosh. Setelah Word for Macintosh dirilis pada tahun 1985, program tersebut mendapatkan perhatian yang cukup luas dari masyarakat pengguna komputer. Microsoft tidak membuat versi Word 2.0 for Macintosh, untuk menyamakan versi dengan Word untuk sistem atau platform lainnya.

Versi selanjutnya dari Word for Macintosh, adalah Word 3.0, yang dirilis pada tahun 1987. Versi ini mencakup banyak peningkatan dan fitur baru tapi memiliki banyak bug. Dalam hanya beberapa bulan, Microsoft mengganti Word 3.0 dengan Word 3.01, yang jauh lebih stabil. Semua pengguna terdaftar dari Word 3.0 dikirimi surat yang berisi salinan Word 3.01 secara gratis, sehingga menjadikan hal ini kesalahan Microsoft paling mahal untuk ditebus pada waktu itu. Word 4.0, yang dirilis pada tahun 1989, merupakan versi yang sangat sukses dan juga stabil digunakan.

Tahun 1990-1995

Pada rentang tahun ini, Word for Windows diluncurkan. Versi pertama dari Word for Windows dirilis pada tahun 1989 dengan harga 500 Dolar Amerika Serikat. Dengan dirilisnya Microsoft Windows 3.0 pada tahun selanjutnya, penjualan pun akhirnya terdongkrak naik, mengingat Word for Windows 1.0 didesain untuk Windows 3.0 dan performanya sangat buruk jika dijalankan pada versi sebelumnya. Microsoft menunggu hingga merilis Word 2.0 untuk mengukuhkan Microsoft Word sebagai pemimpin pasar pengolah kata.